Pemuda
berusia 24 tahun itu tak lagi memulung dan dia tengah menyelesaikan
pasca sarjananya di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di daerah
Kuningan, Jakarta. Wahyudin kuliah S2 dibiayai oleh negara melalui
beasiswa Kemendikbud.
"Sekarang
saya kuliah S2 di ITB, pasca sarjana saya ambil MBA program, gelarnya
nambah sekarang SE goes to MBA hehehe. Insya Allah habis lebaran ini
sudah mau nyusun tesis," kata Wahyudin saat berbincang dengan detikcom,
Jumat (19/6/2015).
Wahyudin
lulus S1 dari kampus Uhamka pada 2013 akhir, saat itu dia banyak
mendapat perhatian publik karena kisah hidupnya memulung untuk membiayai
sekolah dari SD hingga kuliah.
"Saya memang
sebelum lulus udah dapet beasiswa S2 duluan karena waktu itu diwawancara
detik.com bulan Maret, belum lulus. Cerita saya dimuat di media dan
alhamdulillah saya dapet respons yang positif dari teman-teman di luar
sana," kenang Wahyudin.
Kala itu
pihak Kemendikbud datang ke rumah Wahyudin untuk memberikan beasiswa S2.
Wahyudin boleh memilih S2 keluar negeri di negara manapun, namun dia
memilih untuk kuliah di dalam negeri.
"Saya memang
ingin sekali kuliah di luar negeri, tapi saya bertanya lagi di hati saya
yang paling dalam, saya tuh belum umroh, saya tuh punya cita-cita
negara pertama yang harus saya datangi adalah Arab Saudi saya pengen ke
Mekah," ucapnya.
Setelah
berkonsultasi dengan pihak Kemendikbud akhirnya Wahyudin memutuskan
kuliah di pasca sarjana ITB. Namun lagi-lagi Wahyudin selalu memiliki
kisah menarik dalam setiap perjuangannya mencapai cita-cita. Misalnya
saja cerita dia ketika menghadapi ujian agar bisa diterima di ITB.
Wahyudin harus mengikuti tes matematika, Bahasa Inggris, TOEFL dan wawancara yang semuanya dalam Bahasa Inggris.
"Perjuangannya
itu dahsyat banget, TOEFL-nya harus 475 kalau nggak salah. Saya belum
pernah tes karena orang tua sederhana nggak pernah kursus Bahasa Inggris
sama sekali tiba-tiba mau S2 pelajarannya full english," ujar Wahyudin.
Akhirnya
Wahyudin belajar Bahasa Inggris di manapun secara berulang-ulang.
Wahyudin 'berguru' dengan temannya Rizki Yusuf agar bisa lulus tes
TOEFL. Perjuangan dia pun berhasil, namun dia masih harus melalui tes
wawancara dalam Bahasa Inggris.
"Waktu saya
itu sebulan setelah pengumuman lulus. Akhirnya saya jalan ke Jatinegara,
nyeker, karena pemulung dikenalnya nyeker kan. Ke Jatinegara cuma mau
ketemu bule buat ngomong Inggris," ucapnya.
Dia lalu
meminta tour guide yang sedang memandu bule untuk membantunya. "Saya
ketemu bule lagi di tour guide-in terus saya bilang sama mba tour
guidenya kalau saya mau kuliah, saya pemulung, saya enggak punya uang
buat kursus jadi saya mau tour guide biar praktek langsung buat tes
wawancara. Sambil becek-becek nyeker saya keliling dan jelasin tentang
Jatinegara," kenang dia.
Belum PD
hanya ngobrol dengan satu bule, Wahyudin lalu melanjutkan mencari bule
lain untuk belajar Bahasa Inggris gratis. Dia lalu pergi ke Pondok Indah
Mal (PIM).
"Saya pergi
ke PIM sama kakak angkat saya, mereka kursus saya ikut nemenin doang.
Mereka lagi belajar saya berdiri liatin, cuma pengen ketemu bule
ngobrol. Saya ngobrol aja sama bulenya tanya jawab," ucap pemuda yang
pernah jadi gembala kambing ini.
Masih merasa
pelajarannya belum cukup, Wahyudin lalu memutuskan pergi bersama kakak
angkatnya ke Mal Taman Anggrek untuk main Ice Skating. Kakak angkat
Wahyudin memang orang berada dan orang tua angkat Wahyudin juga yang
membantu biaya kuliahnya waktu S1 lalu.
"Masih ada
waktu satu minggu lagi saya ikut kakak angkat saya main ice skating,
saya pikir kan di sana banyak bule. Ngobrol 2 jam sambil main ice
skating. Saya tanya Bahasa Inggris saya gimana kata Bule itu saya udah
bisa komunikasi," papar Wahyudin.
"Tiga bule
itu perjuangan saya Jatinegara, PIM dan Mal Taman Anggrek. Setelah PD
baru saya tes akhirnya lulus," katanya sambil tertawa. detik.com
Copas dari : http://forum.tribunnews.com/showthread.php?7436439-Pemulung-Mas-Ganteng-Wahyudin-Kini-Kuliah-S2-di-ITB#.VYeSjw1fMAE.facebook

Tidak ada komentar:
Posting Komentar