Minggu, 30 Agustus 2015

Inilah Bedanya Mereka yang Kaya Karena Berusaha dan Mereka yang di Kelas Menengah Selamanya

Enam puluh persen dari 400 orang terkaya di Amerika memang sudah terlahir kaya. Artinya, mereka menjadi kaya karena warisan keluarganya. Namun jangan lupa, ada empat puluh persennya yang berusaha dari bawah untuk “naik kelas”. Ada empat puluh persennya yang harus jatuh bangun mengembangkan kekayaan yang tak diwarisi mereka dari orangtua.
Apa saja yang bisa kita pelajari dari orang-orang yang memulai usahanya dari bawah ini? Bagaimana mereka mendidik diri untuk lepas dari kenyamanan kelas menengah yang telah membesarkan mereka dan orang tua mereka? Jika ditanya, bagaimana mereka akan membagi ilmu kepadamu?
Inilah kesempatanmu mendengarkan pesan mereka. Apalagi, kansmu untuk berwirausaha di Indonesia begitu terbuka. Ikuti jejak mereka yang, layaknya kamu, memulai usahanya dari titik nol — mengeruk keuntungan dengan bekal ketahanan dan ide brilian di balik keraguan orang-orang sekitar.

1. Mereka yang kaya akan berani susah. Kemapanan dan kenyamanan hanya menarik kaum kelas menengah
Suka-suka gue dong
Kebanyakan dari kaum kelas menengah (baca: kita) menginginkan kehidupan yang senang dan nyaman. Mencapai kenyamanan secara fisik, psikis dan emosional adalah tujuan utama kaum kelas menengah. Apa-apa cukup dan dicukupkan. Serta sedikit uang lebih untuk liburan dan gadget mahal.
Berlawanan dengan mitos bahwa orang kaya tidak bisa hidup susah, mereka yang berusaha dari bawah justru sudah sangat tahu rasanya diinjak-injak. Hanya dengan itu mereka bisa makmur seperti sekarang. Justru ketika kaum kelas menengah akan mengutamakan kepastian masa depan dan kenyamanan kualitas hidup, orang yang kaya karena berusaha akan sebisa mungkin menghindari jebakan dari rasa nyaman. Penghasilan tetap dan kebutuhan hidup utama yang terpenuhi memang menggiurkan, namun ia tak akan puas hanya meraih itu saja.

2. Kelas menengah akan fokus mengisi tabungan, sementara mereka yang kaya karena berusaha akan membuat tabungannya menghasilkan uang
Dari kecil kita sudah diajarkan buat menyisihkan uang buat ditabung. Tapi pada akhirnya kita merasa gak punya uang yang meski rajin menabung. Ini diakibatkan oleh kebiasaan kita hanya buat menabung tanpa berusaha menaikkan jumlah pemasukan tiap tahunnya. Jika rata-rata tiap orang Indonesia menghasilkan Rp. 32 juta per tahun (pendapatan per kapita 2013, BPS) dan menabung 10%-nya, maka kamu cuma mendapat 3,2 juta pada penghujung tahun. Dengan inflasi yang terus meningkat dalam setahun, apakah sebanding? Menabung memang harus, tapi jika mendiamkan tabungan tanpa memutarnya kamu tak akan pernah menjadi kaya.
Orang kaya juga menabung, kok. Iya emang benar. Tapi selain menabung, mereka juga berusaha membuat tabungan itu meningkatkan pendapatannya dari waktu ke waktu. Mereka gak akan puas dengan satu sumber pemasukan. Mereka fokus untuk menambah income sehingga bisa menabung lebih banyak.


3. Memang nyaman bernostalgia soal mudahnya hidup di tahun 90-an, tapi orang kaya juga akan berpikir jauh untuk masa depan
Kebanyakan kamu kelas menengah hari ini tumbuh besar di era 90-an sebelum krisis melanda, di mana hidup begitu nyaman, barang-barang murah, bisnis lancar, BBM mudah di dapat bahkan musik 90-an pun terasa lebih nikmat. Kalau pun kamu gak pernah mencicipi hidup di tahun 90-an, setidaknya kamu pernah mendengar ceritanya. Cerita ini terus menerus diturunkan pada generasi muda tanpa menyadari betapa bahaya terbuai dalam masa lalu. Orang yang percaya kemarin lebih cerah daripada hari ini bakal kesulitan buat sukses, kebanyakan malah depresi.
Sedangkan orang kaya berorientasi pada masa depan, mereka selalu optimis bahwa keadaan hari esok lebih cerah daripada hari ini. Mereka menghargai masa lalu dengan mengambil pelajaran hingga bisa diaplikasikan sekarang sebagai bekal di masa depan. Self-made millionaire jadi kaya karena mereka berani mempertaruhkan mimpi dan targetnya di masa depan, bukan di masa lalu.


4. Memandang berwirausaha sebagai langkah penuh risiko adalah wajar. Namun calon orang kaya tak akan menganggap risiko perlu ditakutkan.
Karena memulai bisnis gak mudah dan menyeramkan, kita sering mundur sebelum terjun ke dunia usaha. Jadi pengusaha adalah langkah yang beresiko, sehingga kelas menengah memilih untuk bekerja untuk orang lain. “Yang penting nyaman” begitulah yang kita ucapkan. Itu akibat dari cara berpikir kita yang terlalu linear. “Kalau aku dibayar sekian rupiah untuk bekerja per hari, maka harus menambah jumlah hari biar gajinya nambah.” Kaum kelas menengah yang terpelajar pun berpikir dia harus ambil S-2 supaya bisa menambah pendapatan, padahal belum tentu sama sekali.
Saat kaum kelas menengah bimbang dan ragu untuk buka usaha atau nggak, orang kaya mencari ide untuk memecahkan masalah yang dihadapi kelas menengah dan mereka memperoleh keuntungan dari sana. Alih-alih pusing mikirin resiko, orang kaya malah menghitung dan mengobservasi risiko yang dia hadapi agar yakin bahwa risiko tersebut adalah jalan untuk sukses.


5. Kelas menengah melihat orang kaya dan calon orang kaya sebagai kelompok orang sombong. Padahal, apa yang sombong dari ambisi untuk berusaha?
Ada banyak label negatif yang disematkan pada orang-orang kaya. Kita paling senang menyebut mereka sebagai orang-orang angkuh dan sombong yang menganggap dirinya lebih baik daripada orang kebanyakan. Tapi sebenarnya mereka bukan sombong, mereka percaya diri. Mereka pede karena berulang kali mempertaruhkan kenyamanannya dan hampir selalu menang. Bahkan jika mereka pada akhirnya gagal, mereka tetap pede untuk belajar dari kesalahan dan kembali lebih kuat dari sebelumnya. Ini bukan bentuk keangkuhan, tapi keyakinan.


6. Cara kita melihat uang juga beda. Kita melihat uang dengan perasaan, mereka memandang uang dengan logika.
Bahkan seorang yang pendidikannya tinggi, cerdik dan sukses dari kelas menengah dalam sekejap bisa berubah menjadi seorang yang berpikir berdasarkan ketakutan. Takut kesejahteraannya ambruk dan uangnya berkurang. Kelas menengah melihat uang sebagai barang yang harus dicintai dan jangan pernah lepas seperti pacar yang sempurna.
Sebaliknya, orang kaya gak membuat keputusan finansialnya berdasarkan ketakutan. Layaknya pacar yang gak setia, uang bisa datang dan pergi kapan saja. Uang bukanlah benda yang harus dijaga-jaga agar gak hilang, melainkan sebuah kesempatan untuk memiliki opsi yang lebih banyak.


7. Saat orang kaya mengerjar target layaknya perihal hidup atau mati, kaum kelas menengah bekerja berdasarkan target yang bisa dikompromi
Orang terbiasa hidup nyaman seperti kelas menengah adalah penganut setia teori probabilitas, menajur banyak pancingan di sepanjang sungai sambil berharap salah satunya menangkap ikan. Ketika orang kaya mewajibkan target awalnya terpenuhi sesuai rencana, kelas menengah dengan senang hati menggeser dan mengubah target agar yang dicapai cukup untuk dirinya.
Orang kaya gak puas dengan kata cukup, mereka melihat target dan rencana sebagai misi hidup atau mati. Saat kita puas dengan menangkap satu ikan dari sepuluh pancingan, orang kaya mengaharuskan dirinya menangkap 10 ikan dari 10 pancingan tersebut.


8. Sebagian kaum kelas menengah akan membeli banyak barang mewah supaya dikira kaya. Orang kaya justru tahu pentingnya hidup pas-pasan.
Seperti yang kita lihat di media, orang-orang seperti Donald Trump dan Sir Richard Branson pergi keliling dunia dengan jet pribadinya. Tapi toh banyak juga sisi sederhana dari kehidupan para jetset ini. Banyak yang punya mobil sederhana dan rumah yang sederhana pula. Mereka juga gak doyan-doyan amat belanja barang dan pakain mewah. Mark Zuckerberg diketahui cuma pakai oblong abu-abu setiap hari. Pak Bob Sadino malah pakai celana pendek ke mana-mana.
Kontras dengan keadaan di atas, kelas menengah hidup dengan mengira dirinya orang kaya. Gaya hidupnya melampaui kemampuan finansialnya, besar pasak daripada tiang. Kita membeli benda yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan dengan tujuan bisa terlihat seperti orang kaya.


9. Mereka yang memulai dari bawah selalu tahu siapa yang layak dijadikan teman. Mereka tak tunduk pada rasa tidak enakan.
Mungkin selama ini kamu merasa bahwa mereka yang kaya punya clique atau kelompok pertemanan yang eksklusif. Kamu tak akan pernah masuk ke lingkaran mereka kecuali kalau kamu kaya pula. Tapi apakah itu karena mereka sombong dan merasa lebih baik dari kita?
Orang kaya hanya sangat hati-hati dalam memperluas lingkaran pertemanannya. Teman bukan hanya tempat berbagi keluh kesah atau tawa, tapi partner yang saling membantu mewujudkan ambisi satu sama lain. Kita sering kali menjelma seperti orang yang dekat dengan kita, itulah sebabnya para pemenang selalu hang out dengan pemenang lain.


10. Ini yang paling membedakan mereka yang bisa “naik” dari kelasnya: Orang kaya percaya bahwa uang adalah perihal kebebasan, bukan angka dan nominal
Dari sekian banyak perbedaan kita dengan kaum jetset, salah satu yang paling mencolok adalah keyakinan kita bahwa memiliki kekayaan berarti juga memiliki hak buat pamer. Memang benar uang memberi kamu status, tapi sebenarnya yang paling penting dari uang adalah benda ini memberi kamu kebebasan untuk membuat pilihan.
Sebanyak apapun uang mereka, kelas menengah yang tak berusaha “meng-upgrade diri” tak akan bisa mampu memanfaatkan uang mereka ini untuk merasa bebas. Uang mereka habis karena tekanan sosial (untuk membeli barang kekinian, mendatangi acara atau konser hanya karena diajak teman-teman, etc.), bukan karena membeli barang yang benar-benar mereka mau atau menabungnya demi hal-hal yang mereka perlu.
Orang kaya atau calon orang kaya tak akan membiarkan mereka terus ditekan secara sosial. Uang yang mereka miliki mampu membeli jalan keluar dari atasan yang semena-mena, atau mewujudkan cita-cita. Uang adalah kebebasan, bukan hanya kekuatan untuk membeli.


Ambil catatanmu, dan camkan perbedaan-perbedaan di atas. Mulai hari ini berpikirlah seperti orang kaya, bekerjalah seperti mereka. Sudah siap?
Terinspirasi dari buku "How Rich People Think' karya Steve Siebold.

Copas dari tulisan Merry Riana

Minggu, 23 Agustus 2015

5 Kesalahan Besar Yang Anda Harus Hindari Ketika Mengambil Kredit Motor

Kembali lagi dengan transportasi yang masih menjadi salah satu masalah yang masih bisa membuat Anda merasa pusing, terlebih apabila Anda tinggal di kota-kota besar. Kemacetan dan kenyamanan saat di jalan adalah faktor utama yang harus diperhatikan saat berkendara. Karena hal itulah, banyak masyarakat yang memilih membeli sepeda motor karena bisa mempersingkat waktu untuk sampai ke tujuan dan efisien dalam segala hal terutama biaya. Semakin dimudahkannya untuk mengajukan kredit motor, maka orang berbondong-bondong untuk membelinya, terkadang tanpa membayar DP pun, motor sudah bisa dibawa pulang oleh si pembeli dengan asumsi kredit bulanannya yang mahal berbeda dengan orang yang membayar DP besar, jadi, untuk tagihan bulanannya bisa lebih murah dan tenor yang diambil pun tidak terlalu lama.
Untuk itu bagi Anda yang mau membeli motor dengan cara kredit, simak beberapa kesalahan yang seharusnya dihindarkan saat mengajukan kredit untuk sepeda motor:

1. Membeli untuk pamer

Masih ada orang yang membeli motor untuk sekadar pamer saat liburan mudik tiba. Itulah yang harus dihindarkan karena membeli bukan untuk kebutuhan. Terkadang membeli motor hanya karena lapar mata saja karena banyaknya motor baru yang banyak beredar sekarang ini, bukan hanya mesin serta fiturnya yang baru, walaupun hanya stripping saja yang baru tetap saja masyarakat masih ada yang mau membeli.

2. Jangan membeli saat utang menumpuk

Idealnya utang Anda tidak boleh lebih dari 30% dari gaji yang diterima. Membeli motor secara kredit akan menambah utang Anda setiap bulan, jadi pertimbangkan terlebih dahulu saat akan mengajukan kredit motor, jika memang membeli motor untuk kebutuhan, sesuaikanlah dengan gaji dan utang Anda setiap bulannya.
gdn_728x90

3. Tidak mencari leasing terbaik

Banyaknya perusahaan pembiayaan motor dan beragam menjadikan sebagian perusahaan tersebut tidak bertindak secara profesional. Carilah perusahaan yang tergabung dalam anggota Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Anda juga jangan malas mencari perbandingan harga antara dealer yang ada, karena bisa saja di salah satu dealer memberi kesempatan untuk memperbesar DP dan bernegosiasilah selalu untuk mendapatkan tagihan bulanan terendah.

4. Periode pinjaman yang panjang

Usahakan jika mengambil kredit tidak terlalu lama. Maka dari itu, negosiasi kan dengan baik saat akan mengajukan kredit motor, DP besar akan membuat cicilan lebih kecil dan tenor (jangka waktu pembayaran utang) semakin pendek. Beban utang Anda menjadi ringan jika tenor yang diambil semakin pendek, semakin cepat pula kredit Anda lunas.

5. BPKB dan asuransi yang terabaikan

Pilihlah leasing yang bertanggung jawab terhadap BPKB dan asuransi motor Anda. Sehingga saat lunas, BPKB bisa langsung Anda ambil, tidak ada yang namanya BPKB Anda dijadikan jaminan oleh leasing ke bank lain. Pastikan asuransi bisa menjaga Anda selama kredit motor, menjamin setiap masalah yang terjadi pada motor Anda selama kredit dan proses klaim yang mudah
Sebaiknya hindarkan hal-hal tersebut di atas saat akan mengajukan kredit sepeda motor, agar ke depannya Anda pun tidak merasa terbebani. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Anda saat akan mengambil kredit sepeda motor.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Peraturan Kredit Motor

Mengajukan kredit motor saat ini sudah sangatlah mudah dan banyak perusahaan leasing yang menawarkannya. Adanya fasilitas kredit motor ini sangat membantu masyarakat kelas menengah ke bawah untuk memiliki motor sendiri. Namun, ada juga yang enggan mengajukan kredit sepeda motor karena takut akan dikejar-kejar debt collector atau motor akan diambil paksa karena Anda telat membayar cicilan atau mengalami kredit macet. Karena itu, sebelum berniat mengambil kredit sepeda motor, ketahui dulu peraturan-peraturan berikut ini agar Anda merasa lebih yakin dan aman.

Leasing tidak boleh mengambil motor

Jika Anda pernah berpikir bahwa motor Anda akan ditarik secara paksa oleh perusahaan leasing karena telat atau gagal membayar cicilan bulanan, sekarang Anda tak perlu khawatir lagi. Sejak tahun 2012, Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang leasing atau perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tentang pendaftaran fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang dikeluarkan tanggal 7 Oktober 2012.
Akan tetapi, bukan berarti nasabah terbebas dari beban cicilan. Dengan adanya peraturan fidusia tersebut, pihak leasing memang tidak dapat mengambil motor Anda secara paksa, tapi hal tersebut akan diselesaikan secara hukum. Artinya, kasus Anda akan disidangkan, dan pengadilan akan mengeluarkan surat keputusan untuk menyita kendaraan Anda. Dengan demikian, motor Anda akan dilelang oleh pengadilan, dan uang hasil penjualan motor melalui lelang tersebut akan digunakan untuk membayar utang kredit Anda ke perusahaan leasing, lalu uang sisanya akan diberikan kepada Anda.

Uang muka lebih besar

Jika dulu Anda bisa memberikan uang muka sesukanya ketika akan mengambil kredit kendaraan motor, bahkan ada beberapa yang hanya membutuhkan KTP, tapi saat ini Anda tidak bisa lagi sesukanya menentukan jumlah uang muka. Sejak tahun 2012, Bank Indonesia menerbitkan peraturan mengenai kredit sepeda motor dan mobil yang tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/10/DPNP tertanggal 15 Maret 2012. Dengan adanya peraturan tersebut, Bank Indonesia memaksa perusahaan leasing untuk menetapkan uang muka minimal 30 persen untuk kredit mobil dan uang muka minimal 25 persen untuk kredit sepeda motor.
Hal itu bertujuan agar yang mengambil kredit adalah orang-orang yang memang benar-benar mampu untuk membayar cicilannya sehingga tidak akan banyak terjadi kredit macet. Selain itu, tujuan penetapan uang muka minimal 25 persen itu juga untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalanan.

Tempat mengajukan kredit

Sebelum mengajukan kredit, tentu Anda harus mengetahui terlebih dahulu akan mengajukan kredit sepeda motor di mana. Memang, saat ini penyedia jasa kredit sepeda motor sudah menjamur di mana-mana, bahkan ada yang sudah melakukan “jemput bola”, yakni mendatangi langsung konsumen, misalnya yang sering kita lihat adalah motor-motor yang dibawa dengan mobil bak.
Namun, selain dari perusahaan leasing, Anda bisa juga mengajukan kredit langsung ke dealer resmi merek motor tersebut, misalnya saja yang saat ini sedang marak adalah kredit motor Honda dan Yamaha. Untuk kredit motor Honda misalnya, Anda bisa langsung mengajukan kredit langsung ke dealer resmi Honda. Ada beberapa keuntungan jika mengajukan kredit langsung ke dealer resmi. Misalnya untuk kredit motor Honda, Anda akan mendapatkan helm, jaket, dan 1 set tool kit secara gratis. Selain itu, kredit motor Honda juga dapat dilakukan secara online atau lewat telepon, jadi Anda tak perlu repot datang ke showroom.